Ads 468x60px

Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Tuesday, July 17, 2012

UNTUKMU CALON IMAMKU

Ya Rabb…
Ku titipkan dia kepada_Mu,
Dia, separuh jiwaku..yang nama dan keberadaanya masih Kau rahasiakan..
Jika dia membutuhkanku..
Izinkan aku melakukan sesuatu untuknya…
Tegarkan dia ,Jika dia dirundung duka

Ya Allah…
Jagailah dan lindungi dia untukku,,
Hingga pada suatu saat nanti atas izin_Mu
kami bisa dipertemukan…

Aamiin Ya Rabb..
UNTUKMU CALON IMAMKU,,

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ اارَّØ­ِيم


*•Yaa Rabbi•*´¯)Ajarilah kami bagaimana memberi sebelum meminta,berfikir sebelum bertindak,santun dalam berbicara,tenang ketika gundah,diam ketika emosi melanda,bersabar dalam setiap ujian.Jadikanlah kami orang yg selembut Abu Bakar Ash-Shiddiq,sebijaksana Umar bin Khattab,sedermawan Utsman bin Affan,sepintar Ali bin Abi Thalib,sesederhana Bilal,setegar Khalid bin Walid radliallahu'anhumღAmiin ya Rabbal'alamin.

Wahai seseorang yang telah tertulis di lauhul mahfudz,Imamku dan ayah dari anak-anakku, engkau yang akan bersamaku dalam perjalanan nanti…Apakah yg sedang kau lakukan disana?

Aku percaya kau sedang memperbaiki dirimu, memantaskan dirimu tuk menjadi imam bagi tulang rusukmu dan buah hatimu kelak…

Aku percaya kau sedang menempa dirimu dalam beribu cobaan dengan menelantarkan dirimu sendiri pada medan dakwah dan problematika ummat… mencampakkan jauh egomu, membaktikan dirimu tuk ummat…

Aku percaya kau sedang mengkaji, kau sedang belajar, belajar ilmu dunia terutama ilmu akhirat, yang akan kau gunakan dalam mendidikku dan buah hati kita nanti…

Aku percaya Quran selalu ada dalam hatimu, selalu terucap dari bibirmu dan dzikir slalu melantun menemani langkah jihadmu…

Aku percaya kau sedang menundukkan pandanganmu, menjaga hatimu dan mencampakkan hawa nafsumu…

Aku percaya kau sudah merancang hidupmu, hidup kita, keluarga kita, nantinya juga untuk dakwah, untuk ummat, dan hanya kerana_Nya…

Aku percaya,kau sedang memantaskan diri dan terus memperbaiki diri dsana, di belahan bumi manapun kau berada…

Aku pun begitu wahai calon imamku…

Aku sedang belajar… belajar menempa diri, menjauhkan egoku demi ummat, membaktikan diriku untuk orang lain, agar baktiku padamu pun sempurna…

Aku sedang belajar, meniti dakwahku, meniti cita-cita duniaku, meniti cita-cita akhiratku, agar kelak keluarga islami dan kluarga Qur’ani yg aku inginkan nanti dapat kubangun bersamamu… kerana kau tahu? Meskipun kau Imamku, ibu adalah madrasah pertama bagi mujahidah kecilnya nanti…

Aku sedang belajar menjaga diri, menjaga pandangan dan hatiku, agar ketika kau memiliki hati ini, hati ini masih utuh sempurna hanya untukmu…

Aku sedang menempa diri, untuk menjadi seorang Khadijah untukmu, yang menjadi tempatmu membagi resah… seseorang yang kau datang padanya, saat kau tak tahu lagi akan datang pada siapa… seseorang yang menguatkanmu dan menggenggam slalu tanganmu dalam perjalanan jihadmu…

Akupun ingin menjadi ‘Aisyahmu, seorang yang membuatmu tersenyum dan kembali ceria saat penatmu mulai datang, seorang yang menyerap ilmu darimu dengan sempurna dan membenarkan apa-apa yang salah dalam lakumu, seseorang yang mencintaimu dengan cemburunya, namun kau rasakan sakitnya,saat ia tersakiti, hingga kau katakan pada yg lain “janganlah kau sakiti aku dengan cara menyakti ‘Aisyah”…

Aku ingin menjadi Fatimah, yang tak kau bagi cintamu pada yang lain.. bukan kerana aku tak percaya kau tidak dapat berlaku adil, tapi kerana aku ingin mencintaimu dengan sempurna, tanpa diganggu oleh cemburuku, itu saja !!

Tak kalah lagi, aku ingin menjadi seperti ibunda Hajar, yang tak gentar saat kau tinggalkan di padang pasir tandus dengan seorang bayi mungil di pelukan.. tak takut akan kehilanganmu, kerana keyakinanku pada Rabbku lebih besar daripada yakinku padamu… cintaku padamu, tak akan mengalahkan cintaku pada Rabbku…

Usahaku ini tidak mudah , begitupun usahamu..kuyakin itu..
Maka tetaplah dalam jihadmu..tetaplah dalam usahamu..tetaplah dalam ikhtiarmu… aku yakin kau kuat disana, dan doakanlah agar akupun kuat disini dalam jihad dan ikhtiarku…bawalah aku dalam tiap doa dan sujudmu, kumohon… kerana doa yg dapat menolongku…

Hingga saatnya, kita bertemu dalam ikatan suci menyempurnakan separuh dien… dan kita akan melanjutkan jihad kita bersama…

Dan nanti..terimalah aku apa adanya jika aku belum bisa menjadi Khadijahmu, ‘Aisyahmu atau bahkan menjadi seperti ibunda Hajar… tapi bimbinglah aku menjadi seperti mereka… dan kita bimbing bersama mujahid muda kita nanti tuk melanjutkan perjuangan dakwah ini…

Teruntukmu yang ada disana,kuatlah..dan bersabarlah…
Bawalah aku dalam doa dan sujudmu, agar cinta kita nanti, hanya kerana-Nya…Aamiin,


Wahai calon Imamku Takkan Habis Ku Berdo'a Jadi Kekasih Halalmu...

♥ SEMOGA BERMANFAAT ♥

Barakallaahu fiykum wa jazzakumullah khoir

♥SALAM SANTUN UKHUWAH♥

SAAT PALING JAUH

Saat yang paling jauh adalah saat mata
mampu memandang orang yang kita cintai
NAMUN kita tak dapat menatapnya dengan
halal.

Saat yang paling jauh adalah saat kita
berhadapan dengan orang yang kita cintai
NAMUN kita haram menyentuhnya.

Saat yang paling jauh adalah ketika tangan
mampu meraihnya NAMUN dia tlah
menggenggam jari tangan yang lain.

Saat yang paling jauh dan menyakitkan
adalah pada saat kita berada di sebuah acara
Ijab Qobul NAMUN Orang yang kita cintai
bersanding dengan Insan yang menjadi
pilihannya...

Friday, June 15, 2012

Puisi Kangen, Rindu 2012

Kali ini saya coba hadirkan lagi yang tak kalah menyentuhnya dengan "Puisi Kangen". Oke deh kita Simak aja langsung yah; 


Semoga Rindu Cepat Berakhir: 
Jika bintang-bintang sudah tidak dapat lagi menemani
Biarlah ku nikmati kesunyian ini...


Jika puisi indah sudah tak dapat lagi mewakili perasaan ini
Biarlah ku nikmati kehampaan ini...
 Mungkin air mata yang tulus akan lebih bermakna dari pada tawa penuh dusta
Semoga kerinduan ini akan segera berakhir...
Seiring ku dapatkan kerinduan baru yang lebih bermakna dan dapat membuat ku bahagia... 


Rindu bukanlah angin:
Tapi air mata bukanlah hujan 
Yang membasahi lentik bulu mata
Membiarkanku menyeka embun di pipimu yang mawar
Tapi jiwa bukanlah gemuruh yang memetik dawai di jemari
Membiarkan tanganmu dan tanganku bertelangkup dalam getar
Tapi rindu bukanlah angin yang datang dan pergi
tanpa mampu mengejarnya...


Bayang bayang rindu: 
Semilir rasa membelai jiwa tercium aroma yang jauh disana
Adakah sama yang kau rasa disini aku ingat dirimu saja
Bayang-bayang rindu hiasi dalam beranda
Warna-warna canda tawa dirimu yang jauh disana
Terngiang suara ditelinga merdu membisikkan kata
Penuhi ruang rindu di jiwa darimu yang jauh disana
Rindu padamu sungguh aku rasa beranda hatiku hanya gambarmu saja
Engkau yang jauh disana semoga merasakan rinduku juga...


Mengambang dalam batas yang tak tercapai: 
Sunyi malam tenggelam dalam cahaya bulan
langit-langit kita:
mengambang dalam batas yang tak tercapai
Daun-daun menggigil dekapan angin di musim gugur
lagi-lagi kita:
merinding dalam hasrat yang tak tergapai
Jarak membungkus kita dalam mil-mil kesunyian 
tapi rindu membuat hati melekat denganmu
Lalu berbaring saling terpaku, 
“Dekatlah daku, Dekaplah daku.”
Bulan terguling ke dalam kelambu. 


Senyum yang menjadi rahasia bibirmu:
Selalu ada puisi untukmu
semua kata yang tujuannya menggambarkan debar bagaimana indahnya
ingin kupanggil namamu,
Senyum yang menjadi rahasia bibirmu kuperam dalam jantungku
Tumbuh satu per satu menggetarkan sunyi, bermekaran di antara jemari


Sebagian terperangkap ke dalam sajak
sebagian terlepas menjelma kepak
kepak renjana...
Jangan risaukan
kata-kata yang tak terucapkan biarkan menggenang dalam kolam ingatan
atau angin menyingkap rinduku yang tersembunyi di dedaunan
dan melepaskannya padamu dalam bentuk musim gugur yang indah...


Nah itulah tadi Puisi Kangen - Puisi Rindu - Puisi Rindu Terbaru - Puisi Rindu Terbaru 2012 - Puisi Rindu Pada Kekasih. Semoga bisa menjadi sebuah inspirasi dan tentunya bermanfaat untuk anda para penggemar puisi semuanya, Oke!

Thursday, June 14, 2012

Kembali Bersama Karena Cinta

Aku benar-benar tak memahami kenapa Salwa mau saja kembali pada mantan pacarnya. Dia bahkan menikahinya. Seribu pertanyaan seakan-akan berputar-putar di kepalaku, namun tak satupun yang bisa kujawab sendiri. Aku ingat saat itu, Salwa sama sekali tak memandang mantan pacarnya dengan sayang. Hubungan mereka selalu bermasalah dan yang terakhir kali aku melihat sendiri Salwa memutuskan hubungan mereka. Dia malah bersyukur karena berhasil memutuskan lelaki yang katanya bukan tipe idealnya.
Tapi setelah bertahun-tahun berpisah, kami bertemu lagi dan aku benar-benar tak percaya saat melihatnya kini. Randy, mantan kekasihnya justru menjadi suami Salwa. Dan pertunjukkan kemesraan mereka semakin menambah pertanyaan di hatiku.
“Heran, Ndah?” tebak Salwa saat melihat aku bengong. Ketika itu Randy sudah menjauh dari kami, membawa dua anak mereka menuju playground.
Aku tersipu. Sementara Salwa hanya tertawa. “Cinta itu memang aneh, Ndah. Tapi semua memang berproses panjang. Aku dan Randy baru menyadari apa arti cinta itu sebenarnya setelah kami putus saat SMU itu. Kami belajar banyak dari perpisahan itu, bahwa mengenal seseorang itu perlu waktu dan usaha. Dulu aku selalu berpikir Randy egois dan tak romantis. Dia juga selalu lebih menomorsatukan hobi dan teman-temannya, daripada aku kekasihnya. Aku merasa marah karena Randy tak pernah memberiku hadiah ulangtahun dan dia tertawa saat aku tanya kado valentine untukku.”
“Begitupun Randy. Dia merasa aku yang terlalu memikirkan diriku sendiri. Terlalu kekanak-kanakan dan manja. Kami sering ribut hanya karena hal-hal kecil, dan ketika emosi sudah menguasai maka kami memilih berpisah.”
Mata Salwa menerawang, senyumnya tipis. “Di awal berpisah, aku menikmatinya. Memuaskan hatiku untuk melakukan semua yang tak bisa kulakukan bersama Randy. Aku bahkan berhasil menemukan pacar baru yang lebih romantis dan jauh lebih mengerti diriku. Meskipun semua foto-foto kami dan barang-barang pemberian Randy kubuang, bahkan aku melarang orangtuaku menyebut namanya, namun bayangan Randy dan kenangan saat kami pacaran sulit sekali dilupakan. Aku justru merindukan hal-hal yang tak kusuka darinya. Tanpa kusadari ternyata aku mencintai Randy bukan karena dia adalah kekasih seperti yang kuimpikan, tapi karena aku mencintai dirinya apa adanya dan kebersamaan kami saat pacaran itulah proses penerimaanku yang tak pernah kusadari.”
“Sayang, saat itu semuanya sudah terlambat. Barulah aku sadar kalau saat itu, aku terlalu egois dan tergesa-gesa mengambil keputusan. Aku menyesalinya dan sesal itu membuatku mengenang Randy sebagai cinta terindah yang pernah kumiliki. Tapi kuputuskan melanjutkan hidup dan mengakhiri hubungan cinta pelarianku itu. Aku hanya bisa berharap suatu hari nanti Tuhan mendengar doaku dan menemukan orang yang seperti Randy, yang memahami apa adanya.”
“Ternyata Tuhan tak hanya mendengar doaku, Ia mengabulkan doaku. Suatu hari, tanpa sengaja kami bertemu lagi di cafe tempat kami dulu biasa kencan. Kami sempat menyembunyikan kenapa kami ke Cafe itu. Randy beralasan janjian dengan temannya, dan aku bilang aku kebetulan lewat. Padahal kami sama-sama sering ke situ untuk mengenang cinta kami. Bodoh ya, Ndah? Tapi itulah cinta. terkadang aku sendiri sulit memahaminya,” kenang Salwa lagi.
Rasa ingin tahu membuatku bertanya. “Lalu setelah pertemuan itu gimana?”
Salwa menghela napas. “Kami bertukar alamat baru dan nomor telepon. Kami sama-sama tak bisa lagi menyembunyikan perasaan kami. Istilah kerennya sekarang CBLK, Cinta Lama Bersemi Kembali. Dan kali ini Randy memutuskan kami tak usah lagi pacaran karena kami sudah sama-sama dewasa. Kami menikah setelah beberapa bulan menjalin kembali persahabatan.”
“Terus terang, Ndah. Aku bersyukur dulu pernah putus dari Randy. Dengan berpisah itu, aku belajar banyak untuk memperbaiki kekuranganku yang manja dan kekanak-kanakan sementara Randy belajar untuk memahami perasaan perempuan. Ketika kami bertemu dan jatuh cinta untuk kedua kalinya, cinta itu bukan lagi cinta remaja yang penuh emosi tetapi cinta dua orang dewasa yang saling menerima kelebihan dan kekurangan. Bahkan Randy mengajariku arti cinta yang sebenarnya, cara mengekspresikan sikap romantis yang sesungguhnya.”
“Maksudmu, sekarang dia gak pernah lupa ulang tahunmu, kado valentine atau… ” selaku.
Salwa menggeleng, dia menatap suami dan anak-anak yang bermain di kejauhan. “Seperti itu, dia tunjukkan kasih sayangnya padaku dengan berbagi tugas mengurus anak-anak, membiarkanku ngobrol denganmu. Di rumah, tak canggung Randy membuatkan segelas teh untukku bahkan kami sering memasak menyiapkan makan malam bersama. Kasih sayang dan keromantisannya ditunjukkan setiap hari, bukan satu hari dalam setahun. Hadiahnya diberikan setiap hari dengan memberiku perhatian dan cinta. Bagiku sudah sepantasnya aku juga berbuat yang sama padanya, mencintainya. Kami kembali bersama karena cinta, ” kata Salwa menutup ceritanya.
Wajah Salwa tampak bersinar bahagia, serta terpampang jelas di kilauan bola matanya yang indah. Aku terharu. Gambaran kasih sayang yang amat sempurna sudah sangat jelas dan aku tak lagi perlu bertanya. Salwa belajar dari kesalahannya, Randy juga belajar dari ketidaksempurnaan mereka dan justru karena itulah mereka semakin saling memahami satu sama lain. Cinta yang saling menerima kekurangan dan kelebihan dalam proses yang panjang.
*****

Mentari Yang Pergi Kala Senja

Sekelebat sinar matahari menyeruak masuk dari balik tirai jendela kamar, tanpa sengaja sinar itu jatuh tepat di wajahmu. Matamu berkedip-kedip, dan akhirnya membangunkanmu dari tidur yang lelap. Sekonyong-konyong dengan langkah cepat, aku meraih tali tirai untuk menutupnya lebih rapat.
“Jangan, Mas!” pintamu menghentikan gerakanku. “Biarkan saja cahayanya masuk. Sudah lama kamar ini terasa suram. Atih rindu lihat sinarnya,” ujarmu sambil berusaha bangun dan duduk.
Aku melepaskan tali tirai dan segera membantumu duduk. Tubuhmu sedikit gemetar saat aku memegangi bahumu. Ya Allah, semakin lama kau semakin kurus saja. Tak tega rasanya melihat perempuan yang pernah begitu tegar mendampingiku, kini harus menderita seperti ini. Meski tak pernah kudengar sekalipun kau mengeluhkan sakit, tapi perubahan drastis di tubuhmu benar-benar telah cukup menggambarkan semuanya. Aku bahkan bisa merasakan deritamu, melewati hari demi hari tergerus oleh kanker hati sejak dua tahun lalu.
“Ngelihatin Atih kayak gitu bikin Atih malu aja.”
Aku tersipu. “Istriku memang cantik banget hari ini. Selalu cantik setiap hari.” Seulas senyum tergores di bibirmu yang membiru.
Hatiku tercekat menatap wajah pucatmu yang berusaha ceria. Kepala yang sudah licin plontos itu memang tertutup topi, namun mata yang sayu dan tubuh yang ringkih itu tak bisa ditutupi dengan senyum bahagiamu. Pilu rasa hatiku melihat kecantikanmu semakin lama semakin memudar karena penyakit mematikan itu
“Makan dulu, sayang,” bujukku pelan saat melihat piring berisi bubur di samping tempat tidur. Keraguan tergambar jelas di wajahmu saat ikut menatap piring itu. Aku tahu apa yang kau rasakan dan perasaan yang sama juga terbit di hatiku. Namun aku berdoa semoga hari ini tidak terjadi lagi. Sudah beberapa hari ini sejak kemoterapi terakhir, kau hampir tak makan apa-apa hingga aku hampir-hampir tak bisa menyembunyikan ketakutanku.
Tapi doaku tak terkabul. Meski aku tahu kau ingin menghabiskannya, tapi baru sendok yang masuk ke mulutmu semuanya sudah kau muntahkan lagi. Sungguh tak sanggup rasanya melihat istri yang kusayangi harus berkali-kali menunduk menghadap ember kecil itu. Segera kujauhkan piring itu darinya. Aku benar-benar tak tega melihatnya sampai hampir kehabisan tenaga karena terus menerus menahan mual.
“Ma..maafin Atih, mas. Maaf,” bisikmu lemah diantara nafas yang tersengal-sengal.
Aku tak bisa menjawabnya selain mengangguk-angguk dan membereskan tempat tidur.
“Sudah, sudah, kamu tiduran saja ya sayang. Mungkin itu lebih baik. Mau air hangat?” kau mengangguk lemah, secepat aku bisa kusodorkan gelas berisi air hangat itu. Kau meminumnya sedikit sekali, tapi kulihat kelegaan di wajah pucatmu. Kau berbaring dan aku mulai merasa bersalah. Seandainya tadi tak kupaksa makan.
Sebuah buku yang selalu kubacakan untukmu segera kuambil. Seperti biasa, inilah pengisi waktuku saat mendampingimu di rumah sakit. Membaca buku-buku yang dulu tak pernah sempat kau baca karena sibuk mengurus keluarga. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan untukmu, kekasih hatiku.
“Mataharinya tak lagi terlalu terik ya mas. Barangkali mau hujan.”
Aku menoleh ke jendela dan mengangguk. “Iya, soalnya mau musim hujan.”
Tatapanmu berpindah padaku. ”Maafin Atih sudah membuat Mas repot ya. Atih sudah membuat Mas harus mengurusi Atih di usia senja seperti sekarang. Atih gak pernah melayani Mas seperti istri normal. Atih gak pernah memberi Mas kebahagiaan. Maaf ya Mas. Sungguh sungguh Atih minta maaf.”
Kata-katamu yang pelan itu bagai suara petir di siang bolong. Kucari-cari apa maksudmu berkata seperti itu dengan menatapmu tajam, tapi kau malah tersenyum hangat.
“Kamu ini ngomong apa toh, Tih? Buat apa minta maaf? Saya yang justru minta maaf karena gak bisa mencarikanmu dokter terbaik supaya bisa lepas dari penderitaanmu ini,” tukasku lalu aku mengacungkan buku. “Kemarin sampai di mana bacaan kita ya?” tanyaku sambil berpura-pura sibuk membolak-balik lembaran buku, mengalihkan pembicaraan.
“Mas.” Tanganmu kembali menghentikan gerakanku. Mata indahmu kini terlihat menyimpan kesedihan. “Mas harus maafin Atih dulu, Atih sudah jadi istri yang selalu membuat Mas menderita, membuat Mas harus kerepotan. Harusnya kan kita sedang menikmati masa pensiun yang indah, nengok anak dan cucu-cucu kita. Seharusnya kita jalan-jalan ke pantai, traveling keliling tempat-tempat yang dulu tak sempat kita datangi dan menikmati sinar matahari itu sambil bergandengan tangan seperti yang dulu sering kita khayalkan.”
Sungguh, aku benci kalau kau mulai berkata seperti ini. Aku tak suka mendengar kau mengulang-ulang sesuatu yang tak bisa kuberikan. Kau selalu mengingatkanku bahwa aku belum sempat memberimu semua itu. Belum sempat mewujudkan mimpi-mimpimu yang dulu selalu saja batal karena berbagai sebab. Entah berapa kali kita akhirnya menghabiskan waktu hanya dengan berkhayal dan tertawa-tawa miris berdua. Impian yang tak pernah terwujud karena kebutuhan yang terlalu banyak saat itu.
“Harusnya saya yang minta maaf, Tih. Saya yang tak pernah memberimu apa-apa. Dulu saya ingin ke tempat itu karena kamu ingin pergi ke sana. Dulu saya ingin melakukannya karena kamu menginginkannya. Jadi seharusnya saya yang meminta maaf karena belum sempat mewujudkannya. Tapi saya janji, kalau kau sehat lagi kita akan melakukan semuanya… semuanya berdua.” Aku mendengar getaran di suaraku sendiri. Tidak, aku tidak boleh menangis di hadapanmu.
Senyummu  membayang di sudut pipi yang tirus. “Mas sudah memberikan banyak hal buat Atih. Atih bisa bertemu Mas, mencintai Mas, menikah dan memiliki anak-anak yang baik sudah merupakan hal terbaik buat Atih. Atih sangat bahagia. Mas seperti matahari Atih, matahari yang selalu menyinari kemanapun Atih pergi. Tak ada seharipun Atih menyesali hidup bersama Mas. Atih benar-benar bahagia. Kalaupun Atih menyesal, itu karena Atih tak bisa melakukan hal yang sama buat Mas. Kalau Allah memberi kesempatan buat Atih, ingin rasanya Atih tetap berbakti pada mas.”
Dadaku terasa sesak. Mataku mulai berkaca-kaca. “Mas mau ke toilet dulu sebentar.” Hanya itu yang bisa kulakukan. Berlari ke toilet, melepas emosiku sendiri.
Airmata yang tadi kutahan langsung jatuh deras begitu aku masuk toilet. Aku membuka kran air dan menutup mulutku dengan handuk agar suaraku tak terdengar olehmu.
Kekasihku, istriku, cintaku, Ratih. Seandainya kau tahu. Setiap hari sejak kau sakit, aku menyesal bukan kepalang. Bukan karena aku harus mengurusmu, bukan karena aku harus mengeluarkan hampir separuh harta untuk kesembuhanmu. Bukan itu, istriku. Sungguh bukan itu. Aku menyesal karena tak pernah memperhatikan kesehatanmu, aku menyesal karena tak pernah menyadari kalau sekuat apapun dirimu tetaplah seorang manusia. Aku menyesal tak sempat mewujudkan banyak hal untukmu. Aku menyesal, aku terlambat menyadari kalau kau telah memberiku banyak tapi aku bahkan tak pernah memberimu kebahagiaan sebenarnya. Kalau seandainya diberi kesempatan kedua, aku ingin sekali menjadikanmu istri paling bahagia di muka bumi ini. Akan kulakukan apa saja yang kau mau agar kau bahagia. Akan kubawa kau ke tempat paling indah di dunia ini dan akan kuberikan apapun yang kau mau, asal satu hal saja. Asal kau bisa sembuh dan kembali padaku seperti dulu. Sehat walafiat, memberi keluarga kita sinarmu yang cemerlang seperti dulu.
Janganlah kau pernah berpikir kalau aku menderita karena mengurusmu, sayang. Buatku, setiap kali bangun dan melihatmu tersenyum sudah cukup. Inilah tujuanku saat mataku terbuka di pagi hari. Tak ada tujuan lagi dalam hidupku selain bisa mengurusmu dan membuatmu bahagia. Aku tetap yakin kau sembuh meski dokter sudah berkali-kali menggelengkan kepala. Kalau kau tiada, aku malah tak tahu harus bagaimana menghadapi hari esok. Apalagi yang kupunya selain dirimu? Bagaimana aku bisa bahagia tanpa kau di sisiku, belahan jiwaku? Apa tujuan hidupku jika kau tak ada? Aku takut membayangkan hidup tanpa dirimu lagi. Sungguh aku benar-benar takut.
Dan itu benar-benar terjadi beberapa hari kemudian. Ketakutanku menjadi kenyataan. Kau tak terbangun lagi. Matamu terpejam rapat meski berkali-kali kubangunkan, bahkan ketika tim dokter memeriksa keadaanmu. Tubuhku seakan lunglai ketika dokter bilang kau berada di ambang batas antara kematian dan kehidupan. Koma. Kata-kata itu membuatku menangis di depan anak-anak kita. Kekuatanku pergi seketika saat mendengarnya. Aku lemah tanpamu, sayang.
“Ayah, ayah. Ikhlaskan Bunda, Ayah! Biarkan bunda pergi, Ayah. Ikhlaskan dia. Bunda sudah menderita begitu lama. Biarkan dia istirahat dengan tenang,” kata Bimo, putra kita yang terkecil. Ia berkata seperti itu, tapi airmata juga terus menetes dari matanya.
Aku tak bisa. Aku tak mau. Sungguh aku tak bisa hidup tanpamu. Tapi Bimo memelukku, memberiku kekuatan. Elsa dan Rima juga ikut memelukku dan mereka memohon padaku dengan isak tertahan. Hati mereka sudah terlalu pedih melihat kau menderita hingga rela melepas kepergianmu, rela kehilangan dirimu. Bagiku, melepasmu sama saja membuang separuh jiwaku. Membiarkanmu pergi berarti membawa sebagian hatiku terbang. Namun, aku juga tak tega melihatmu terus menerus berusaha bertahan dalam sakit yang panjang. Seandainya saja semua derita itu bisa kugantikan.
Akhirnya, dengan langkah paling berat yang pernah kujalani, aku menunduk di sisi tempat tidurmu dan berbisik lembut di telingamu. Kubelai wajah cantik yang telah mulai berhias keriput itu untuk yang terakhir kalinya. “Pergilah, sayang. Jika kau ingin terlepas dari derita ini, pergilah dan beristirahatlah dengan tenang di sisiNya. Tunggu aku di sana, ya sayang. Aku ikhlas… benar-benar ikhlas melepasmu.  Asyhadu alla ilaaha illallah Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.” Dan aku kembali menangis saat setetes airmata jatuh dari matamu yang terpejam rapat. Aku memelukmu lama sekali dan kaupun pergi dalam pelukan terakhirku.
Senja itu, saat matahari terbenam kau menghembuskan nafas yang terakhir. Mentari lain yang juga menyinariku selama ini telah pergi bersama datangnya senja itu, ia meninggalkanku. Mentari yang menyinariku selama ini, memberiku kekuatan menghadapi semua tantangan hidup dan mentari yang selalu mendampingiku dengan setia selama separuh hidupku telah tiada.
Terima kasih istriku, untuk semua yang kau berikan padaku. Kau memberiku banyak hal, pelajaran penting tentang kehidupan dan semua hal terindah selama ini. Jika kau tak sakit, aku tak yakin menyadari betapa pentingnya arti dirimu bagiku. Jika kita tak pernah menghabiskan waktu di dalam kamar rumah sakit berbulan-bulan, mungkin aku takkan pernah bisa mengobrolkan banyak hal denganmu. Jika kita tak bersama di hari-hari terakhirmu, aku mungkin akan menyesalinya sepanjang hidupku. Paling tidak, karena sakitmu Allah telah memberiku kesempatan mengabdikan diri sebagai seorang suami yang sesungguhnya. Kau sudah memberiku banyak hal sepanjang pernikahan kita, cinta yang melimpah, kehidupan yang damai, kebahagiaan dan pengertian tiada habisnya, kenyamanan bahkan hingga matamu tak lagi bisa kau buka, kau tetap memberiku banyak kenangan yang takkan pernah kulupakan. Terlalu banyak, hingga pengabdianku tiada artinya dibandingkan semua itu. Kau tinggalkan aku bersama anak-anak dan cucu-cucu kita, keluarga yang menemaniku dalam sepi panjang setelah kepergianmu. Berat tapi harus kujalani agar kau tahu betapa berartinya semua yang kau tinggalkan padaku. Akan kujaga mereka semua walaupun tanpa kehadiranmu. Namun bagi kami, kau tetaplah sang Mentari hati. Mentari yang pergi kala senja.
*****

Kisah inspirasi untuk para istri dan suami

rindu jemarimu menyentuh di keyboardku...
Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Saturday, May 26, 2012

Pesona Muthi'ah: Sosok Teladan Muslimah Sejati Versi Rasulullah SAW

FATHIMAH RA bergegas menggandeng Hasan RA yang masih kecil.  Terngiang di telinganya pesan sang ayahanda, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, untuk menemui seorang muslimah berakhlak mulia dan meneladaninya. Tak sabar rasanya Fathimah untuk segera mengetahui, seperti apa gerangan teladan wanita bernama Siti Muthi’ah tersebut.

Sesampainya di depan pintu rumah yang dimaksud, Fathimah pun mengucap salam. Tak lama kemudian si pemilik rumah datang membuka pintu.  Hatinya sangat heran bercampur senang karena tak menyangka yang bertandang adalah putri Rasulullah SAW. Namun, sungguh di luar dugaan Fathimah, setelah mengutarakan maksud kedatangannya, Muthi’ah malah berkata, “Sungguh bahagia aku menyambut kedatanganmu Fathimah. Namun, maafkanlah aku karena aku hanya dapat menerima kedatanganmu di rumahku. Sesungguhnya suamiku mengamanatkan padaku untuk tidak menerima tamu lelaki di rumahku.”
Fathimah tersenyum, “Wahai Muthi’ah, ini Hasan anakku dan dia masih kecil.” Muthi’ah menjawab, “Sekali lagi maafkan aku Fathimah, meskipun ia masih kecil tetapi ia lelaki. Sungguh aku tidak dapat melanggar amanat suamiku.”
Mendengar jawaban Muthi’ah, Fathimah mulai merasakan kemuliaan akhlak Muthi’ah dan semakin ingin mengetahui lebih jauh keutamaan akhlak wanita tersebut. Akhirnya Fathimah pun pamit untuk sejenak mengantar Hasan pulang.
…Rasulullah SAW telah mengabarkan keteladanan akhlaq Muthi’ah...
Tak lama kemudian, Fathimah kembali tiba di rumah Muthi’ah seorang diri dan segera disambut dengan gembira oleh Muthi’ah. Setibanya di dalam, Muthi’ah dengan berbinar-binar menanyakan, apa penyebab kedatangannya. Fathimah pun menjelaskan bahwa ia datang karena perintah ayahnya, Rasulullah SAW untuk meneladani akhlaq Muthi’ah. Hati Muthi’ah pun segera ditutupi luapan kebahagiaan karena pujian dari Rasulullah SAW tentu tak ada bandingannya. Namun, ia kembali bertanya dengan keheranan pada Fathimah, “Apakah engkau tengah bercanda Fathimah? Keutamaan akhlak seperti apa yang kumiliki? Aku hanyalah perempuan yang biasa saja,” Muthi’ah kemudian tampak berpikir keras.
Sementara itu, tak sengaja pandangan Fathimah menyapu ruangan yang sederhana tersebut. Terlihat olehnya sebilah rotan, sebuah kipas, dan sehelai handuk. Ia pun segera bertanya pada Muthi’ah, “Untuk apa benda-benda itu?” Wajah Muthi’ah pun seketika merona merah. “Untuk apa kau tanyakan itu Fathimah, aku jadi malu.” Namun, Fathimah mendesak, “Katakanlah padaku Muthi’ah, mungkin benda-benda itulah yang membuat ayahku mengabarkan padaku tentang kemuliaanmu.”
Muthi’ah pun bercerita, “Suamiku setiap harinya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami. Karena itu, aku sangat menyayangi dan menghormatinya. Begitu ia pulang dari bekerja, maka aku akan cepat-cepat menyambutnya dan mengelap keringatnya dengan handuk ini. Setelah kering keringatnya, maka ia akan berbaring di tempat tidur. Ketika itulah, aku mengambil kipas ini dan kukipasi tubuhnya sampai hilang penatnya atau ia tertidur pulas.”
…Inilah pesona yang hanya mampu dipahami oleh seorang muslimah sejati yang mengukur segala tindakan dengan skala iman...
Fathimah masih penasaran, “Lalu, untuk apa rotan ini?” Muthi’ah melanjutkan, “Setelah ia hilang lelahnya atau terbagun dari tidurnya, maka aku akan segera berpakaian serapi dan semenarik mungkin. Karena aku tahu, seorang suami pasti sangat senang melihat istrinya yang berpakaian rapi dan hal itu akan membuatnya betah di rumah. Kuhidangkan makanan di atas meja makan dan kutunggu ia hingga selesai makan. Setelah dia selesai makan, maka aku akan bertanya, apakah ada pelayananku yang tak berkenan dihatinya. Maka aku akan menyerahkan rotan tersebut padanya untuk memukulku.”
“Lalu, apakah suamimu sering memukulmu?” tanya Fathimah. “Tidak, tidak pernah, yang selalu terjadi adalah dia menarik tubuhku dan memelukku penuh kasih sayang.” Mendengar semua penjelasan tersebut, Fathimah terperangah. Sungguh, tak berlebihan kiranya, jika Rasulullah menyuruhnya mendatangi rumah Muthi’ah. Pesona akhlaqnya sungguh luar biasa.
…Perempuan beriman dan berakhlak mulia akan mendapatkan seorang suami yang beriman dan penuh cinta...
Pesona yang tak mungkin dimiliki seorang perempuan yang  berorientasi materialistik yang memandang segala sesuatu hanya pada kebendaan dan kasat mata saja. Sebab, cinta dan ketulusan Muthi’ah tentu tak terukur pada sebilah rotan yang digunakan untuk memukul saja. Kasih sayangnya tentu tak akan membuatnya rendah karena setia mengelap keringat di tubuh suaminya.
Inilah pesona yang hanya mampu dipahami oleh seorang muslimah sejati yang mengukur segala tindakan dengan skala iman. Yang mampu melihat dengan mata hati bahwa ketaatan akan menghadiahkan kebahagiaan. Bahwa ketundukan pada perintah Allah dan Rasul-Nya, bukan hanya menuntun pada kebenaran. Namun, juga pada pembuktian bahwa setiap perempuan yang beriman dan berakhlak mulia juga akan mendapatkan seorang suami yang beriman dan penuh cinta. [‘Aliya/voa-islam.com]

Tuesday, May 15, 2012

Sifat-Sifat Nabi Muhammad SAW

Fizikal Nabi
Telah dikeluarkan oleh Ya'kub bin Sufyan Al-Faswi dari Al-Hasan bin Ali ra. katanya: Pernah aku menanyai pamanku (dari sebelah ibu) Hind bin Abu Halah, dan aku tahu baginda memang sangat pandai mensifatkan perilaku Rasulullah SAW, padahal aku ingin sekali untuk disifatkan kepadaku sesuatu dari sifat beliau yang dapat aku mencontohinya, maka dia berkata:

Adalah Rasulullah SAW itu seorang yang agung yang senantiasa diagungkan, wajahnya berseri-seri layak bulan di malam purnamanya, tingginya cukup tidak terialu ketara, juga tidak terlalu pendek, dadanya bidang, rambutnya selalu rapi antara lurus dan bergelombang, dan memanjang hingga ke tepi telinganya, lebat, warnanya hitam, dahinya luas, alisnya lentik halus terpisah di antara keduanya, yang bila baginda marah kelihatannya seperti bercantum, hidungnya mancung, kelihatan memancar cahaya ke atasnya, janggutnya lebat, kedua belah matanya hitam, kedua pipinya lembut dan halus, mulutnya tebal, giginya putih bersih dan jarang-jarang, di dadanya tumbuh bulu-bulu yang halus, tengkuknya memanjang, berbentuk sederhana, berbadan besar lagi tegap, rata antara perutnya dan dadanya, luas dadanya, lebar antara kedua bahunya, tulang belakangnya besar, kulitnya bersih, antara dadanya dan pusatnya dipenuhi oleh bulu-bulu yang halus, pada kedua teteknya dan perutnya bersih dari bulu, sedang pada kedua lengannya dan bahunya dan di atas dadanya berbulu pula, lengannya panjang, telapak tangannya lebar, halus tulangnya, jari telapak kedua tangan dan kakinya tebal berisi daging, panjang ujung jarinya, rongga telapak kakinya tidak menyentuh tanah apabila baginda berjalan, dan telapak kakinya lembut serta licin tidak ada lipatan, tinggi seolah-olah air sedang memancar daripadanya, bila diangkat kakinya diangkatnya dengan lembut (tidak seperti jalannya orang menyombongkan diri), melangkah satu-satu dan perlahan-lahan, langkahnya panjang-panjang seperti orang yang melangkah atas jurang, bila menoleh dengan semua badannya, pandangannya sering ke bumi, kelihatan baginda lebih banyak melihat ke arah bumi daripada melihat ke atas langit, jarang baginda memerhatikan sesuatu dengan terlalu lama, selalu berjalan beriringan dengan sahabat-sahabatnya, selalu memulakan salam kepada siapa yang ditemuinya.

Kebiasaan Nabi
Kataku pula: Sifatkanlah kepadaku mengenai kebiasaannya!Jawab pamanku: Adalah Rasulullah SAW itu kelihatannya seperti orang yang selalu bersedih, senantiasa banyak berfikir, tidak pernah beristirshat panjang, tidak berbicara bila tidak ada keperluan, banyak diamnya, memulakan bicara dan menghabiskannya dengan sepenuh mulutnva, kata-katanya penuh mutiara mauti manikam, satu-satu kalimatnya, tidak berlebih-lebihan atau berkurang-kurangan, lemah lembut tidak terlalu kasar atau menghina diri, senantiasa membesarkan nikmat walaupun kecil, tidak pernah mencela nikmat apa pun atau terlalu memujinya, tiada seorang dapat meredakan marahnya, apabila sesuatu dari kebenaran dihinakan sehingga dia dapat membelanya.

Dalam riwayat lain, dikatakan bahwa baginda menjadi marah kerana sesuatu urusan dunia atau apa-apa yang bertalian dengannya, tetapi apabila baginda melihat kebenaran itu dihinakan, tiada seorang yang dapat melebihi marahnya, sehingga baginda dapat membela kerananya. Baginda tidak pernah marah untuk dirinya, atau membela sesuatu untuk kepentingan dirinya, bila mengisyarat diisyaratkan dengan semua telapak tangannya, dan bila baginda merasa takjub dibalikkan telapak tangannya, dan bila berbicara dikumpulkan tangannya dengan menumpukan telapak tangannya yang kanan pada ibu jari tangan kirinya, dan bila baginda marah baginda terus berpaling dari arah yang menyebabkan ia marah, dan bila baginda gembira dipejamkan matanya, kebanyakan ketawanya ialah dengan tersenyum, dan bila baginda ketawa, baginda ketawa seperti embun yang dingin.

Berkata Al-Hasan lagi: Semua sifat-sifat ini aku simpan dalam diriku lama juga. Kemudian aku berbicara mengenainya kepada Al-Husain bin Ali, dan aku dapati ianya sudah terlebih dahulu menanyakan pamanku tentang apa yang aku tanyakan itu. Dan dia juga telah menanyakan ayahku (Ali bin Abu Thalib ra.) tentang cara keluar baginda dan masuk baginda, tentang cara duduknya, malah tentang segala sesuatu mengenai Rasulullah SAW itu.

Rumah Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Aku juga pernah menanyakan ayahku tentang masuknya Rasulullah SAW lalu dia menjawab: Masuknya ke dalam rumahnya bila sudah diizinkan khusus baginya, dan apabila baginda berada di dalam rumahnya dibagikan masanya tiga bagian. Satu bagian khusus untuk Allah ta'ala, satu bagian untuk isteri-isterinya, dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Kemudian dijadikan bagian untuk dirinya itu terpenuh dengan urusan di antaranya dengan manusia, dihabiskan waktunya itu untuk melayani semua orang yang awam maupun yang khusus, tiada seorang pun dibedakan dari yang lain.

Di antara tabiatnya ketika melayani ummat, baginda selalu memberikan perhatiannya kepada orang-orang yang terutama untuk dididiknya, dilayani mereka menurut kelebihan diri masing-masing dalam agama. Ada yang keperluannya satu ada yang dua, dan ada yang lebih dari itu, maka baginda akan duduk dengan mereka dan melayani semua urusan mereka yang berkaitan dengan diri mereka sendiri dan kepentingan ummat secara umum, coba menunjuki mereka apa yang perlu dan memberitahu mereka apa yang patut dilakukan untuk kepentingan semua orang dengan mengingatkan pula: "Hendaklah siapa yang hadir menyampaikan kepada siapa yang tidak hadir. Jangan lupa menyampaikan kepadaku keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya sendiri, sebab sesiapa yang menyampaikan keperluan orang yang tidak dapat menyampaikan keperluannya sendiri kepada seorang penguasa, niscaya Allah SWT akan menetapkan kedua tumitnya di hari kiamat", tiada disebutkan di situ hanya hal-hal yang seumpama itu saja.

Baginda tidak menerima dari bicara yang lain kecuali sesuatu untuk maslahat ummatnya. Mereka datang kepadanya sebagai orang-orang yang berziarah, namun mereka tiada meninggalkan tempat melainkan dengan berisi. Dalam riwayat lain mereka tiada berpisah melainkan sesudah mengumpul banyak faedah, dan mereka keluar dari majelisnya sebagai orang yang ahli dalam hal-ihwal agamanya.

Luaran Nabi
Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Kemudian saya bertanya tentang keadaannya di luar, dan apa yang dibuatnya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW ketika di luar, senantiasa mengunci lidahnya, kecuali jika memang ada kepentingan untuk ummatnya. Baginda selalu beramah-tamah kepada mereka, dan tidak kasar dalam bicaranya. Baginda senantiasa memuliakan ketua setiap suku dan kaum dan meletakkan masing-masing di tempatnya yang layak. Kadang-kadang baginda mengingatkan orang ramai, tetapi baginda senantiasa menjaga hati mereka agar tidak dinampakkan pada mereka selain mukanya yang manis dan akhlaknya yang mulia. Baginda selalu menanyakan sahabat-sahabatnya bila mereka tidak datang, dan selalu bertanyakan berita orang ramai dan apa yang ditanggunginya. Mana yang baik dipuji dan dianjurkan, dan mana yang buruk dicela dan dicegahkan.

Baginda senantiasa bersikap pertengahan dalam segala perkara, tidak banyak membantah, tidak pernah lalai supaya mereka juga tidak suka lalai atau menyeleweng, semua perkaranya baik dan terjaga, tidak pernah meremehkan atau menyeleweng dari kebenaran, orang-orang yang senantiasa mendampinginya ialah orang-orang paling baik kelakuannya, yang dipandang utama di sampingnya, yang paling banyak dapat memberi nasihat, yang paling tinggi kedudukannya, yang paling bersedia untuk berkorban dan membantu dalam apa keadaan sekalipun.

Majlis Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya lalu bertanya pula tentang majelis Nabi SAW dan bagaimana caranya ? Jawabnya: Bahwa Rasulullah SAW tidak duduk dalam sesuatu majelis, atau bangun daripadanya, melainkan baginda berzikir kepada Allah SWT baginda tidak pernah memilih tempat yang tertentu, dan melarang orang meminta ditempatkan di suatu tempat yang tertentu. Apabila baginda sampai kepada sesuatu tempat, di situlah baginda duduk sehingga selesai majelis itu dan baginda menyuruh membuat seperti itu. Bila berhadapan dengan orang ramai diberikan pandangannya kepada semua orang dengan sama rata, sehingga orang-orang yang berada di majelisnya itu merasa tiada seorang pun yang diberikan penghormatan lebih darinya. Bila ada orang yang datang kepadanya kerana sesuatu keperluan, atau sesuatu masliahat, baginda terus melayaninya dengan penuh kesabaran hinggalah orang itu bangun dan kembali.

Baginda tidak pernah menghampakan orang yang meminta daripadanya sesuatu keperluan, jika ada diberikan kepadanya, dan jika tidak ada dijawabnya dengan kata-kata yang tidak mengecewakan hatinya. Budipekertinya sangat baik, dan perilakunya sungguh bijak. Baginda dianggap semua orang seperti ayah, dan mereka dipandang di sisinya semuanya sama dalam hal kebenaran, tidak berat sebelah. Majelisnya semuanya ramah-tamah, segan-silu, sabar menunggu, amanah, tidak pemah terdengar suara yang tinggi, tidak dibuat padanya segala yang dilarangi, tidak disebut yang jijik dan buruk, semua orang sama kecuali dengan kelebihan taqwa, semuanya merendah diri, yang tua dihormati yang muda, dan yang muda dirahmati yang tua, yang perlu selalu diutamakan, yang asing selalu didahulukan.

Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya pun lalu menanyakan tentang kelakuan Rasulullah SAW pada orang-orang yang selalu duduk-duduk bersama-sama dengannya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW selalu periang orangnya, pekertinya mudah dilayan, seialu berlemah-lembut, tidak keras atau bengis, tidak kasar atau suka berteriak-teriak, kata-katanya tidak kotor, tidak banyak bergurau atau beromong kosong segera melupakan apa yang tiada disukainya, tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadanya, tidak suka menjadikan orang berputus asa. Sangat jelas dalam perilakunya tiga perkara yang berikut. Baginda tidak suka mencela orang dan memburukkannya. Baginda tidak suka mencari-cari keaiban orang dan tidak berbicara mengenai seseorang kecuali yang mendatangkan faedah dan menghasilkan pahala.

Apabila baginda berbicara, semua orang yang berada dalam majelisnya memperhatikannya dengan tekun seolah-olah burung sedang tertengger di atas kepala mereka. Bila baginda berhenti berbicara, mereka baru mula berbicara, dan bila dia berbicara pula, semua mereka berdiam seribu basa. Mereka tidak pernah bertengkar di hadapannya. Baginda tertawa bila dilihatnya mereka tertawa, dan baginda merasa takjub bila mereka merasa takjub. Baginda selalu bersabar bila didatangi orang badwi yang seringkali bersifat kasar dan suka mendesak ketika meminta sesuatu daripadanya tanpa mahu mengalah atau menunggu, sehingga terkadang para sahabatnya merasa jengkel dan kurang senang, tetapi baginda tetap menyabarkan mereka dengan berkata: "Jika kamu dapati seseorang yang perlu datang, hendaklah kamu menolongnya dan jangan menghardiknya!". Baginda juga tidak mengharapkan pujian daripada siapa yang ditolongnya, dan kalau mereka mau memujinya pun, baginda tidak menggalakkan untuk berbuat begitu. Baginda tidak pernah memotong bicara sesiapa pun sehingga orang itu habis berbicara, lalu barulah baginda berbicara, atau baginda menjauh dari tempat itu.

Diamnya Nabi
Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Saya pun menanyakan pula tentang diamnya, bagaimana pula keadaannya? Jawabnya: Diam Rasulullah SAW bergantung kepada mempertimbangkan empat hal, yaitu: Kerana adab sopan santun, kerana berhati-hati, kerana mempertimbangkan sesuatu di antara manusia, dan kerana bertafakkur. Adapun sebab pertimbangannya ialah kerana persamaannya dalam pandangan dan pendengaran di antara manusia. Adapun tentang tafakkurnya ialah pada apa yang kekal dan yang binasa. Dan terkumpul pula dalam peribadinya sifat-sifat kesantunan dan kesabaran. Tidak ada sesuatu yang boleh menyebabkan dia menjadi marah, ataupun menjadikannya membenci. Dan terkumpul dalam peribadinya sifat berhati-hati dalam empat perkara, iaitu: Suka membuat yang baik-baik dan melaksanakannya untuk kepentingan ummat dalam hal-ehwal mereka yang berkaitan dengan dunia mahupun akhirat, agar dapat dicontohi oleh yang lain. Baginda meninggalkan yang buruk, agar dijauhi dan tidak dibuat oleh yang lain. Bersungguh-sungguh mencari jalan yang baik untuk maslahat ummatnya, dan melakukan apa yang dapat mendatangkan manfaat buat ummatnya, baik buat dunia ataupun buat akhirat.

(Nukilan Thabarani - Majma'uz-Zawa'id 8:275)