Ads 468x60px

Showing posts with label cerpen islami. Show all posts
Showing posts with label cerpen islami. Show all posts

Tuesday, July 17, 2012

Rahasia Wanita Yang Tidak Boleh Dibaca Wanita

Rahasia Wanita. Memang tidak ada yang mengetahui apa isi hati setiap wanita. Apalagi isi hati kaum perempuan terkadang sulit untuk diterka. Terkadang ingin A tapi besoknya bisa berubah jadi B. Bagaimana dengan rahasia-rahasia wanita yang ada dalam hati, berikut rahasianya :

1. Bila seorang wanita mengatakan dia sedang bersedih,tetapi dia tidak meneteskan airmata,itu berarti dia sedang menangis di dalam hatinya.

2. Bila dia tidak menghiraukan kamu setelah kamu menyakiti hatinya,lebih baik kamu beri dia waktu untuk menenangkan hatinya sebelum kamu menegur dengan ucapan maaf.

3. Wanita sulit untuk mencari sesuatu yang dia benci tentang orang yang paling dia sayang (karena itu banyak wanita yang patah hati bila hubungannya putus di tengah jalan).

4. Jika sorang wanita jatuh cinta dengan seorang lelaki,lelaki itu akan sentiasa ada di pikirannya walaupun ketika dia sedang dengan lelaki lain.

5. Bila lelaki yang dia cintai merenung tajam ke dalam matanya,dia akan cair seperti coklat!!

6. Wanita memang menyukai pujian tetapi selalu tidak tahu cara menerima pujian.

7. Jika kamu tidak suka dengan gadis yang menyukai kamu setengah mati,tolak cintanya dengan lembut,jangan kasar karena ada satu semangat dalam diri wanita yang kamu tak akan tahu bila dia telah membuat keputusan,dia akan melakukan apa saja.

8. Jika seorang gadis sedang menjauhkan diri darimu setelah kamu tolak cintanya,biarkan dia untuk seketika.Jika kamu masih ingin menganggap dia seorang kawan,cobalah tegur dia perlahan-lahan.

9. Wanita suka meluahkan apa yang mereka rasa.Musik,puisi,lukisan dan tulisan adalah cara termudah mereka meluahkan isi hati mereka.

10.Jangan sesekali beritahu kepada perempuan tentang apa yang membuat mereka langsung merasa tak berguna.

11.Bersikap terlalu serius bisa mematikan mood wanita.

12.Bila pertama kali lelaki yang dicintainya sedang diam memberikan respon positif,misalnya menghubunginya melalui telepon,si gadis akan bersikap acuh tak acuh seolah-olah tidak berminat,tetapi sebenarnya dia akan berteriak senang dan tak sampai sepuluh minit,semua teman-temannya akan tahu berita tersebut.

13.Sebuah senyuman memberi seribu arti bagi wanita.Jadi jangan senyum sembarangan kepada wanita.

14.Jika kamu menyukai sorang wanita, mulailah dengan persahabatan.Kemudian biarkan dia mengenalmu lebih dalam.

15.Jika sorang wanita memberi seribu satu alasan setiap kali kamu ajak keluar,tinggalkan dia karena dia memang tak berminat denganmu.

16.Tetapi jika dalam waktu yang sama dia menghubungimu atau menunggu panggilan darimu,teruskan usahamu untuk memikatnya.

17.Jangan sesekali menebak apa yang dirasakannya.Tanya dia sendiri!!

18.Setelah sorang gadis jatuh cinta,dia akan sering bertanya-tanya mengapa aku tak bertemu lelaki ini lebih awal.

19.Kalau kamu masih mencari-cari cara yang paling romantis untuk memikat hati sorang gadis,bacalah buku-buku cinta.

20.Bila setiap kali melihat foto bersama,yang pertama dicari oleh wanita ialah siapa yang berdiri di sebelah buah hatinya,kemudian barulah dirinya sendiri.

21.Mantan pacarnya akan selalu ada di pikirannya tetapi lelaki yang dicintainya sekarang akan berada di tempat teristimewa di hatinya!!

22.Satu ucapan ‘Hi’ saja sudah cukup menceriakan harinya.

23.Teman baiknya saja yang tahu apa yang sedang dia rasa dan lalui.

24.Wanita paling benci lelaki yang berbaik-baik dengan mereka semata-mata untuk menggaet kawan mereka yang paling cantik.

25.Cinta berarti kesetiaan, jujur dan kebahagiaan tanpa syarat.

26.Semua wanita menginginkan seorang lelaki yang dicintainya dengan sepenuh hati..

27.Senjata wanita adalah airmata!!

28.Wanita suka jika sesekali orang yang disayanginya memberi surprise buatnya (hadiah, bunga atau sekadar kata-kata romantis).Mereka akan terharu dan merasakan bahwa dirinya dicintai setulus hati.Dengan ini dia tak akan ragu-ragu terhadapmu.

29.Wanita mudah jatuh hati pada lelaki yang perhatian padanya dan baik terhadapnya.So,kalau mau memikat wanita pandai-pandailah..

30. Sebenarnya mudah mengambil hati wanita kerena apa yang dia mau hanyalah perasaan dicintai dan disayangi sepenuh jiwa.

•*~ BEBERAPA TIPS MENUJU KELUARGA SAKINAH •*~

Setiap orang muslim meyakini tentang kedudukan akhlak dalam kehidupan individu, berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara.
Di sini, ada beberapa akhlak dan adab yang harus ada pada suami-istri, yakni berupa hak di antara keduanya,

firman Allah Subhanahu wa ta’ala:
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.”
(Al-Baqarah: 228 )

1. Keduanya memiliki sifat amanah.
Jangan sekali-kali salah satu dari keduanya mengkhianati yang lain, karena mereka berdua tak ubahnya dua orang yang sedang berserikat, sehingga dibutuhkan amanah, menerima nasihat, jujur dan ikhlas di antara keduanya dalam segala kondisi.

2. Memiliki kasih sayang di antara keduanya.
Sang istri menyayangi suami dan begitu juga sebaliknya, sang suami menyayangi istrinya.
Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (Ar-Rum: 21)

3. Menumbuhkan rasa saling percaya antara kedua belah pihak. Jangan sekali-kali terkotori dengan keraguan terhadap kejujuran, amanah, dan keikhlasannya.

4. Lemah lembut, wajah yang selalu ceria, ucapan yang baik dan penuh penghargaan.

Allah Swt telah berfirman:
“Bergaullah dengan mereka secara patut.” (An-Nisa`: 19)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Inginkan dan lakukan kebaikan untuk kaum wanita.”
(Minhajul Muslim, 1/102). Wallahu a’lam

Semoga Bermanfaat

Salam Santun dan Salam Ukhuwah Fillah

Thursday, July 5, 2012

KEUTAMAAN MALAM NISFU SYA’BAN

Tulisan ini hanyalah sekedar berbagi untuk teman-teman Ummat Muslim, semoga bermanfaat. Karena memberikat sesuatu yang bermanfaat adalah bagian dari amal ibadah.

Berdasarkan informasi, 15 Sya’ban jatuh pada Kamis tanggal 5 Juli 2012
(Malam Nisfu Sya’ban pada hari Rabu tgl 4 Juli 2012 Malam Kamis sejak terbenamnya matahari)
Apa yang menyebabkan malam Nisfu Sya’ban ini besar artinya bagi umat Muslim ? Berikut ini diceritakan seperti yang di alami Rasulullah Saw:

Kebesaran hari ini diterangkan oleh Rasulullah saw. ” Malaikat Jibril mendatangiku pada malam Nishfu (15) Sya’ban, seraya berkata, ” Hai Muhammad, malam ini pintu-pintu langit dibuka. Bangunlah dan Shalatlah, angkat kepalamu dan tadahkan dua tanganmu kelangit .”

Rasulullah saw bertanya, ” Malam apa ini Jibril ?”

Jibril menjawab. ” Malam ini dibukakan 300 pintu rahmat. Tuhan mengampuni kesalahan orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali tukang sihir, tukang nujum, orang bermusuhan, orang yg terus menerus minum khamar (arak atau minuman keras), terus menerus berzina, memakan riba, durhaka kepada ibu bapak, orang yang suka mengadu domba dan orang yang memutuskan silaturahim. Tuhan tidak mengampuni mereka sampai mereka taubat dan meninggalkan kejahatan mereka itu .”

Rasulullah pun keluar rumah, lentas mengerjakan shalat (sendirian) dan menangis dalam sujudnya, seraya berdoa :
.” Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab dan siksa-Mu serta kemurkaan-Mu
Tiada kubatasi pujian-pujian kepada-Mu sebagaimana Engkau memuji diri-Mu, maka bagi-Mu lah segala pujia-pujian itu hingga Engkau rela .” (HR Abu Hurairah)

KEUTAMAAN MALAM NISFU SYA’BAN

Adapun keutamaan bulan Sya’ban lainnya akan lebih jelas lagi dalam hadis-hadis berikut:

Hadis Pertama

Aisyah RA bercerita bahwa pada suatu malam dia kehilangan Rasulullah SAW, ia keluar mencari dan akhirnya menemukan beliau di pekuburan Baqi’, sedang menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau berkata, “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam Nishfu Sya’ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah bulu domba Bani Kalb.” (HR Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadis Kedua

Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ “Sesungguhnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.” (HR Ibnu Majah)

Hadis Ketiga

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika malam Nishfu Sya’ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, ‘Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, adakah yang begini (2x), demikian seterusnya hingga terbitnya fajar.” (HR Ibnu Majah).

Demikianlah keutamaan dan kelebihan malam Nishfu Sya’ban, marilah kita manfaatkan malam yang mulia ini untuk mendekatkan diri dan memohon sebanyak-banyaknya kepada Allah.

Oleh karena itu sahabatku, malam tersebut sangatlah baik untuk beribadah dan memohon ampunan (bertaubat) atas segala hal buruk yang kita lakukan, dan semoga Allah swt menerima segala amal ibadah dan mengampuni dosa-dosa dan kesalahan kita . . Amiin .

Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang mengingatkan sesama tentang kedatangan bulan ini. Maka api neraka haram baginya.”

Salam Kompasiana

Thursday, June 14, 2012

Kembali Bersama Karena Cinta

Aku benar-benar tak memahami kenapa Salwa mau saja kembali pada mantan pacarnya. Dia bahkan menikahinya. Seribu pertanyaan seakan-akan berputar-putar di kepalaku, namun tak satupun yang bisa kujawab sendiri. Aku ingat saat itu, Salwa sama sekali tak memandang mantan pacarnya dengan sayang. Hubungan mereka selalu bermasalah dan yang terakhir kali aku melihat sendiri Salwa memutuskan hubungan mereka. Dia malah bersyukur karena berhasil memutuskan lelaki yang katanya bukan tipe idealnya.
Tapi setelah bertahun-tahun berpisah, kami bertemu lagi dan aku benar-benar tak percaya saat melihatnya kini. Randy, mantan kekasihnya justru menjadi suami Salwa. Dan pertunjukkan kemesraan mereka semakin menambah pertanyaan di hatiku.
“Heran, Ndah?” tebak Salwa saat melihat aku bengong. Ketika itu Randy sudah menjauh dari kami, membawa dua anak mereka menuju playground.
Aku tersipu. Sementara Salwa hanya tertawa. “Cinta itu memang aneh, Ndah. Tapi semua memang berproses panjang. Aku dan Randy baru menyadari apa arti cinta itu sebenarnya setelah kami putus saat SMU itu. Kami belajar banyak dari perpisahan itu, bahwa mengenal seseorang itu perlu waktu dan usaha. Dulu aku selalu berpikir Randy egois dan tak romantis. Dia juga selalu lebih menomorsatukan hobi dan teman-temannya, daripada aku kekasihnya. Aku merasa marah karena Randy tak pernah memberiku hadiah ulangtahun dan dia tertawa saat aku tanya kado valentine untukku.”
“Begitupun Randy. Dia merasa aku yang terlalu memikirkan diriku sendiri. Terlalu kekanak-kanakan dan manja. Kami sering ribut hanya karena hal-hal kecil, dan ketika emosi sudah menguasai maka kami memilih berpisah.”
Mata Salwa menerawang, senyumnya tipis. “Di awal berpisah, aku menikmatinya. Memuaskan hatiku untuk melakukan semua yang tak bisa kulakukan bersama Randy. Aku bahkan berhasil menemukan pacar baru yang lebih romantis dan jauh lebih mengerti diriku. Meskipun semua foto-foto kami dan barang-barang pemberian Randy kubuang, bahkan aku melarang orangtuaku menyebut namanya, namun bayangan Randy dan kenangan saat kami pacaran sulit sekali dilupakan. Aku justru merindukan hal-hal yang tak kusuka darinya. Tanpa kusadari ternyata aku mencintai Randy bukan karena dia adalah kekasih seperti yang kuimpikan, tapi karena aku mencintai dirinya apa adanya dan kebersamaan kami saat pacaran itulah proses penerimaanku yang tak pernah kusadari.”
“Sayang, saat itu semuanya sudah terlambat. Barulah aku sadar kalau saat itu, aku terlalu egois dan tergesa-gesa mengambil keputusan. Aku menyesalinya dan sesal itu membuatku mengenang Randy sebagai cinta terindah yang pernah kumiliki. Tapi kuputuskan melanjutkan hidup dan mengakhiri hubungan cinta pelarianku itu. Aku hanya bisa berharap suatu hari nanti Tuhan mendengar doaku dan menemukan orang yang seperti Randy, yang memahami apa adanya.”
“Ternyata Tuhan tak hanya mendengar doaku, Ia mengabulkan doaku. Suatu hari, tanpa sengaja kami bertemu lagi di cafe tempat kami dulu biasa kencan. Kami sempat menyembunyikan kenapa kami ke Cafe itu. Randy beralasan janjian dengan temannya, dan aku bilang aku kebetulan lewat. Padahal kami sama-sama sering ke situ untuk mengenang cinta kami. Bodoh ya, Ndah? Tapi itulah cinta. terkadang aku sendiri sulit memahaminya,” kenang Salwa lagi.
Rasa ingin tahu membuatku bertanya. “Lalu setelah pertemuan itu gimana?”
Salwa menghela napas. “Kami bertukar alamat baru dan nomor telepon. Kami sama-sama tak bisa lagi menyembunyikan perasaan kami. Istilah kerennya sekarang CBLK, Cinta Lama Bersemi Kembali. Dan kali ini Randy memutuskan kami tak usah lagi pacaran karena kami sudah sama-sama dewasa. Kami menikah setelah beberapa bulan menjalin kembali persahabatan.”
“Terus terang, Ndah. Aku bersyukur dulu pernah putus dari Randy. Dengan berpisah itu, aku belajar banyak untuk memperbaiki kekuranganku yang manja dan kekanak-kanakan sementara Randy belajar untuk memahami perasaan perempuan. Ketika kami bertemu dan jatuh cinta untuk kedua kalinya, cinta itu bukan lagi cinta remaja yang penuh emosi tetapi cinta dua orang dewasa yang saling menerima kelebihan dan kekurangan. Bahkan Randy mengajariku arti cinta yang sebenarnya, cara mengekspresikan sikap romantis yang sesungguhnya.”
“Maksudmu, sekarang dia gak pernah lupa ulang tahunmu, kado valentine atau… ” selaku.
Salwa menggeleng, dia menatap suami dan anak-anak yang bermain di kejauhan. “Seperti itu, dia tunjukkan kasih sayangnya padaku dengan berbagi tugas mengurus anak-anak, membiarkanku ngobrol denganmu. Di rumah, tak canggung Randy membuatkan segelas teh untukku bahkan kami sering memasak menyiapkan makan malam bersama. Kasih sayang dan keromantisannya ditunjukkan setiap hari, bukan satu hari dalam setahun. Hadiahnya diberikan setiap hari dengan memberiku perhatian dan cinta. Bagiku sudah sepantasnya aku juga berbuat yang sama padanya, mencintainya. Kami kembali bersama karena cinta, ” kata Salwa menutup ceritanya.
Wajah Salwa tampak bersinar bahagia, serta terpampang jelas di kilauan bola matanya yang indah. Aku terharu. Gambaran kasih sayang yang amat sempurna sudah sangat jelas dan aku tak lagi perlu bertanya. Salwa belajar dari kesalahannya, Randy juga belajar dari ketidaksempurnaan mereka dan justru karena itulah mereka semakin saling memahami satu sama lain. Cinta yang saling menerima kekurangan dan kelebihan dalam proses yang panjang.
*****

Mentari Yang Pergi Kala Senja

Sekelebat sinar matahari menyeruak masuk dari balik tirai jendela kamar, tanpa sengaja sinar itu jatuh tepat di wajahmu. Matamu berkedip-kedip, dan akhirnya membangunkanmu dari tidur yang lelap. Sekonyong-konyong dengan langkah cepat, aku meraih tali tirai untuk menutupnya lebih rapat.
“Jangan, Mas!” pintamu menghentikan gerakanku. “Biarkan saja cahayanya masuk. Sudah lama kamar ini terasa suram. Atih rindu lihat sinarnya,” ujarmu sambil berusaha bangun dan duduk.
Aku melepaskan tali tirai dan segera membantumu duduk. Tubuhmu sedikit gemetar saat aku memegangi bahumu. Ya Allah, semakin lama kau semakin kurus saja. Tak tega rasanya melihat perempuan yang pernah begitu tegar mendampingiku, kini harus menderita seperti ini. Meski tak pernah kudengar sekalipun kau mengeluhkan sakit, tapi perubahan drastis di tubuhmu benar-benar telah cukup menggambarkan semuanya. Aku bahkan bisa merasakan deritamu, melewati hari demi hari tergerus oleh kanker hati sejak dua tahun lalu.
“Ngelihatin Atih kayak gitu bikin Atih malu aja.”
Aku tersipu. “Istriku memang cantik banget hari ini. Selalu cantik setiap hari.” Seulas senyum tergores di bibirmu yang membiru.
Hatiku tercekat menatap wajah pucatmu yang berusaha ceria. Kepala yang sudah licin plontos itu memang tertutup topi, namun mata yang sayu dan tubuh yang ringkih itu tak bisa ditutupi dengan senyum bahagiamu. Pilu rasa hatiku melihat kecantikanmu semakin lama semakin memudar karena penyakit mematikan itu
“Makan dulu, sayang,” bujukku pelan saat melihat piring berisi bubur di samping tempat tidur. Keraguan tergambar jelas di wajahmu saat ikut menatap piring itu. Aku tahu apa yang kau rasakan dan perasaan yang sama juga terbit di hatiku. Namun aku berdoa semoga hari ini tidak terjadi lagi. Sudah beberapa hari ini sejak kemoterapi terakhir, kau hampir tak makan apa-apa hingga aku hampir-hampir tak bisa menyembunyikan ketakutanku.
Tapi doaku tak terkabul. Meski aku tahu kau ingin menghabiskannya, tapi baru sendok yang masuk ke mulutmu semuanya sudah kau muntahkan lagi. Sungguh tak sanggup rasanya melihat istri yang kusayangi harus berkali-kali menunduk menghadap ember kecil itu. Segera kujauhkan piring itu darinya. Aku benar-benar tak tega melihatnya sampai hampir kehabisan tenaga karena terus menerus menahan mual.
“Ma..maafin Atih, mas. Maaf,” bisikmu lemah diantara nafas yang tersengal-sengal.
Aku tak bisa menjawabnya selain mengangguk-angguk dan membereskan tempat tidur.
“Sudah, sudah, kamu tiduran saja ya sayang. Mungkin itu lebih baik. Mau air hangat?” kau mengangguk lemah, secepat aku bisa kusodorkan gelas berisi air hangat itu. Kau meminumnya sedikit sekali, tapi kulihat kelegaan di wajah pucatmu. Kau berbaring dan aku mulai merasa bersalah. Seandainya tadi tak kupaksa makan.
Sebuah buku yang selalu kubacakan untukmu segera kuambil. Seperti biasa, inilah pengisi waktuku saat mendampingimu di rumah sakit. Membaca buku-buku yang dulu tak pernah sempat kau baca karena sibuk mengurus keluarga. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan untukmu, kekasih hatiku.
“Mataharinya tak lagi terlalu terik ya mas. Barangkali mau hujan.”
Aku menoleh ke jendela dan mengangguk. “Iya, soalnya mau musim hujan.”
Tatapanmu berpindah padaku. ”Maafin Atih sudah membuat Mas repot ya. Atih sudah membuat Mas harus mengurusi Atih di usia senja seperti sekarang. Atih gak pernah melayani Mas seperti istri normal. Atih gak pernah memberi Mas kebahagiaan. Maaf ya Mas. Sungguh sungguh Atih minta maaf.”
Kata-katamu yang pelan itu bagai suara petir di siang bolong. Kucari-cari apa maksudmu berkata seperti itu dengan menatapmu tajam, tapi kau malah tersenyum hangat.
“Kamu ini ngomong apa toh, Tih? Buat apa minta maaf? Saya yang justru minta maaf karena gak bisa mencarikanmu dokter terbaik supaya bisa lepas dari penderitaanmu ini,” tukasku lalu aku mengacungkan buku. “Kemarin sampai di mana bacaan kita ya?” tanyaku sambil berpura-pura sibuk membolak-balik lembaran buku, mengalihkan pembicaraan.
“Mas.” Tanganmu kembali menghentikan gerakanku. Mata indahmu kini terlihat menyimpan kesedihan. “Mas harus maafin Atih dulu, Atih sudah jadi istri yang selalu membuat Mas menderita, membuat Mas harus kerepotan. Harusnya kan kita sedang menikmati masa pensiun yang indah, nengok anak dan cucu-cucu kita. Seharusnya kita jalan-jalan ke pantai, traveling keliling tempat-tempat yang dulu tak sempat kita datangi dan menikmati sinar matahari itu sambil bergandengan tangan seperti yang dulu sering kita khayalkan.”
Sungguh, aku benci kalau kau mulai berkata seperti ini. Aku tak suka mendengar kau mengulang-ulang sesuatu yang tak bisa kuberikan. Kau selalu mengingatkanku bahwa aku belum sempat memberimu semua itu. Belum sempat mewujudkan mimpi-mimpimu yang dulu selalu saja batal karena berbagai sebab. Entah berapa kali kita akhirnya menghabiskan waktu hanya dengan berkhayal dan tertawa-tawa miris berdua. Impian yang tak pernah terwujud karena kebutuhan yang terlalu banyak saat itu.
“Harusnya saya yang minta maaf, Tih. Saya yang tak pernah memberimu apa-apa. Dulu saya ingin ke tempat itu karena kamu ingin pergi ke sana. Dulu saya ingin melakukannya karena kamu menginginkannya. Jadi seharusnya saya yang meminta maaf karena belum sempat mewujudkannya. Tapi saya janji, kalau kau sehat lagi kita akan melakukan semuanya… semuanya berdua.” Aku mendengar getaran di suaraku sendiri. Tidak, aku tidak boleh menangis di hadapanmu.
Senyummu  membayang di sudut pipi yang tirus. “Mas sudah memberikan banyak hal buat Atih. Atih bisa bertemu Mas, mencintai Mas, menikah dan memiliki anak-anak yang baik sudah merupakan hal terbaik buat Atih. Atih sangat bahagia. Mas seperti matahari Atih, matahari yang selalu menyinari kemanapun Atih pergi. Tak ada seharipun Atih menyesali hidup bersama Mas. Atih benar-benar bahagia. Kalaupun Atih menyesal, itu karena Atih tak bisa melakukan hal yang sama buat Mas. Kalau Allah memberi kesempatan buat Atih, ingin rasanya Atih tetap berbakti pada mas.”
Dadaku terasa sesak. Mataku mulai berkaca-kaca. “Mas mau ke toilet dulu sebentar.” Hanya itu yang bisa kulakukan. Berlari ke toilet, melepas emosiku sendiri.
Airmata yang tadi kutahan langsung jatuh deras begitu aku masuk toilet. Aku membuka kran air dan menutup mulutku dengan handuk agar suaraku tak terdengar olehmu.
Kekasihku, istriku, cintaku, Ratih. Seandainya kau tahu. Setiap hari sejak kau sakit, aku menyesal bukan kepalang. Bukan karena aku harus mengurusmu, bukan karena aku harus mengeluarkan hampir separuh harta untuk kesembuhanmu. Bukan itu, istriku. Sungguh bukan itu. Aku menyesal karena tak pernah memperhatikan kesehatanmu, aku menyesal karena tak pernah menyadari kalau sekuat apapun dirimu tetaplah seorang manusia. Aku menyesal tak sempat mewujudkan banyak hal untukmu. Aku menyesal, aku terlambat menyadari kalau kau telah memberiku banyak tapi aku bahkan tak pernah memberimu kebahagiaan sebenarnya. Kalau seandainya diberi kesempatan kedua, aku ingin sekali menjadikanmu istri paling bahagia di muka bumi ini. Akan kulakukan apa saja yang kau mau agar kau bahagia. Akan kubawa kau ke tempat paling indah di dunia ini dan akan kuberikan apapun yang kau mau, asal satu hal saja. Asal kau bisa sembuh dan kembali padaku seperti dulu. Sehat walafiat, memberi keluarga kita sinarmu yang cemerlang seperti dulu.
Janganlah kau pernah berpikir kalau aku menderita karena mengurusmu, sayang. Buatku, setiap kali bangun dan melihatmu tersenyum sudah cukup. Inilah tujuanku saat mataku terbuka di pagi hari. Tak ada tujuan lagi dalam hidupku selain bisa mengurusmu dan membuatmu bahagia. Aku tetap yakin kau sembuh meski dokter sudah berkali-kali menggelengkan kepala. Kalau kau tiada, aku malah tak tahu harus bagaimana menghadapi hari esok. Apalagi yang kupunya selain dirimu? Bagaimana aku bisa bahagia tanpa kau di sisiku, belahan jiwaku? Apa tujuan hidupku jika kau tak ada? Aku takut membayangkan hidup tanpa dirimu lagi. Sungguh aku benar-benar takut.
Dan itu benar-benar terjadi beberapa hari kemudian. Ketakutanku menjadi kenyataan. Kau tak terbangun lagi. Matamu terpejam rapat meski berkali-kali kubangunkan, bahkan ketika tim dokter memeriksa keadaanmu. Tubuhku seakan lunglai ketika dokter bilang kau berada di ambang batas antara kematian dan kehidupan. Koma. Kata-kata itu membuatku menangis di depan anak-anak kita. Kekuatanku pergi seketika saat mendengarnya. Aku lemah tanpamu, sayang.
“Ayah, ayah. Ikhlaskan Bunda, Ayah! Biarkan bunda pergi, Ayah. Ikhlaskan dia. Bunda sudah menderita begitu lama. Biarkan dia istirahat dengan tenang,” kata Bimo, putra kita yang terkecil. Ia berkata seperti itu, tapi airmata juga terus menetes dari matanya.
Aku tak bisa. Aku tak mau. Sungguh aku tak bisa hidup tanpamu. Tapi Bimo memelukku, memberiku kekuatan. Elsa dan Rima juga ikut memelukku dan mereka memohon padaku dengan isak tertahan. Hati mereka sudah terlalu pedih melihat kau menderita hingga rela melepas kepergianmu, rela kehilangan dirimu. Bagiku, melepasmu sama saja membuang separuh jiwaku. Membiarkanmu pergi berarti membawa sebagian hatiku terbang. Namun, aku juga tak tega melihatmu terus menerus berusaha bertahan dalam sakit yang panjang. Seandainya saja semua derita itu bisa kugantikan.
Akhirnya, dengan langkah paling berat yang pernah kujalani, aku menunduk di sisi tempat tidurmu dan berbisik lembut di telingamu. Kubelai wajah cantik yang telah mulai berhias keriput itu untuk yang terakhir kalinya. “Pergilah, sayang. Jika kau ingin terlepas dari derita ini, pergilah dan beristirahatlah dengan tenang di sisiNya. Tunggu aku di sana, ya sayang. Aku ikhlas… benar-benar ikhlas melepasmu.  Asyhadu alla ilaaha illallah Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.” Dan aku kembali menangis saat setetes airmata jatuh dari matamu yang terpejam rapat. Aku memelukmu lama sekali dan kaupun pergi dalam pelukan terakhirku.
Senja itu, saat matahari terbenam kau menghembuskan nafas yang terakhir. Mentari lain yang juga menyinariku selama ini telah pergi bersama datangnya senja itu, ia meninggalkanku. Mentari yang menyinariku selama ini, memberiku kekuatan menghadapi semua tantangan hidup dan mentari yang selalu mendampingiku dengan setia selama separuh hidupku telah tiada.
Terima kasih istriku, untuk semua yang kau berikan padaku. Kau memberiku banyak hal, pelajaran penting tentang kehidupan dan semua hal terindah selama ini. Jika kau tak sakit, aku tak yakin menyadari betapa pentingnya arti dirimu bagiku. Jika kita tak pernah menghabiskan waktu di dalam kamar rumah sakit berbulan-bulan, mungkin aku takkan pernah bisa mengobrolkan banyak hal denganmu. Jika kita tak bersama di hari-hari terakhirmu, aku mungkin akan menyesalinya sepanjang hidupku. Paling tidak, karena sakitmu Allah telah memberiku kesempatan mengabdikan diri sebagai seorang suami yang sesungguhnya. Kau sudah memberiku banyak hal sepanjang pernikahan kita, cinta yang melimpah, kehidupan yang damai, kebahagiaan dan pengertian tiada habisnya, kenyamanan bahkan hingga matamu tak lagi bisa kau buka, kau tetap memberiku banyak kenangan yang takkan pernah kulupakan. Terlalu banyak, hingga pengabdianku tiada artinya dibandingkan semua itu. Kau tinggalkan aku bersama anak-anak dan cucu-cucu kita, keluarga yang menemaniku dalam sepi panjang setelah kepergianmu. Berat tapi harus kujalani agar kau tahu betapa berartinya semua yang kau tinggalkan padaku. Akan kujaga mereka semua walaupun tanpa kehadiranmu. Namun bagi kami, kau tetaplah sang Mentari hati. Mentari yang pergi kala senja.
*****

Kisah inspirasi untuk para istri dan suami

rindu jemarimu menyentuh di keyboardku...
Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.